Mekanisme Kerja Obat : Fase Farmakokinetik – Ekskresi

Setelah melalui proses absorpsi, distribusi, dan metabolisme obat akan dikeluarkan dari tubuh. Fase ini dinamakan fase ekskresi.

Ekskresi obat keluar tubuh kebanyakan menggunakan ginjal sebagai media. Selain oleh ginjal tempat ekskresi obat bisa melalui intestinal alias usus (feses), paru-paru, kulit, keringat, air ludah, dan air susu. Tetapi biasanya yang digunakan untuk menghetahui parameter ekskresi obat adalah melalui urin (dari ginjal). Hal ini dikarenakan sangat sedikit kadar obat yang terekskresi melalui jalur selain urin. Sebagai contoh anggap saja kita pakai parasetamol. Gak mungkin juga kan kita ngetes kadar obat kita dari keringat kita. Hehehe.

Kecepatan obat untuk diekskresi dari tubuh dilihat dari waktu paruhnya (T 1/2). Setiap obat memiliki waktu paro yang berbeda-beda. Obat A mungkin dalam 2 jam sudah bersih dari tubuh, tapi ada juga yang baru 24 jam baru hilang dari tubuh. Waktu paro sendiri adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu senyawa agar jumlahnya tersisa 1/2 nya. Jadi semisal kalau ada senyawa 100 mg, maka waktu paro adalah waktu yang dibutuhkan senyawa tersebut sehingga senyawanya tinggal 50 mg. Jika dikaitkan dengan ekskresi maka waktu paro berarti waktu yang dibutuhkan suatu obat untuk hilang separuhnya dari tubuh. Untuk lebih jelasnya pembahasan waktu paro teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang waktu paro orde nol dan orde satu.

Eliminasi obat dari tubuh bisa bertambah panjang jika ada kerusakan pada ginjal dan hepar kita. Dengan bertambahnya waktu paro eliminasi maka durasi obat akan jadi makin panjang, dan juga obat yang harusnya sudah keluar dari tubuh, ternyata belum keluar. Maka dari itu, pada kebanyakan obat akan dikurangi dosisnya untuk mengurangi toksisitas.

Proses ekskresi obat dalam ginjal ada tiga tahap, yaitu filtrasi glomelurus, reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.

Pada fase filtrasi obat yang tidak terikat protein plasma akan mengalami filtrasi atau penyaringan di glomelurus sebelum menuju tubulus. Pada bagian ini yang berpengaruh pada kecepatan filtrasi adalah ukuran partikel, bentuk partikel, dan jumlah pori glomelurus.

Dari hal diatas kita dapat simpulkan jika obat yang terikat dengan protein plasma tidak akan ikut terekskresi karena ukuran protein yang besar. Dan jika kita temukan protein pada urin kita, maka glomelurus yang kita miliki memang sudah rusak. Karena sejatinya tidak mungkin protein bisa menembus glomerulus.

Setelah tahapan filtrasi selanjutnya menuju tahapan reabsorpsi. Pada tahapan ini dilakukan penyerapan kembali senyawa obat yang mash non polar dan masih dalam bentuk tak terion.

Hal ini bisa dimanipulasi dengan membentuk pH urin. Dengan memberi suasana basa pada urin paka obat-obat asam akan terion sehingga tidak direabsorpsi dan menuju tahap selanjutnya. Begitu juga sebaliknya untuk obat basa.

Tahap terakhir adalah sekresi. Yaitu proses pengeluaran senyawa obat dari tubuh melalui urin.

Ok sekian penjelasan saya. Jika ada pertanyaan silahkan komen dibawah Happy learning

Seri Tulisan Farmakologi

Be Sociable, Share!

2 Responses to “Mekanisme Kerja Obat : Fase Farmakokinetik – Ekskresi”

  • abdul wahid:

    berapa banyak obat yang di keluarkan melalui mulut, dengan komposisi 300 mg,,

    Setahu saya tidak ada obat yang diekskresikan lewat mulut kecuali dia muntah. Obat hanya diekskresikan melalui feses, air seni, keringat, air mata, nafas, dan lain-lain. Dan jumlahnya tiap obat berbeda-beda. mungkin obat A 90% keluar lewat feses, obat B 90% lewat air seni. Semoga mengerti :)

  • NurQalby:

    bagaimana jika seorang ibu yang mengidap penyakit berat seperti kanker namun penyakit tersebut baru terdeteksi setelah ia dalam keadaan hamil dan di haruskan mengkonsumsi obat untuk kanker, apakah obat tersebut berbahaya untuk janinnya dan bagaimana cara mengatasinya?

    Terima kasih sudah berkunjung. Pertanyaan ini sebenarnya lebih cocok diberikan kepada seorang dokter daripada mahasiswa Farmasi seperti saya. Tapi tak apalah saya akan coba bantu menjawab.

    Si Ibu dianjuran untuk mengatasi kankernya. Karena jika menunggu sang anak lahir, maka dikhawatirkan kanker pada tubuh si Ibu akan susah untuk dijinakkan. Pemberian obat ini tentunya disesuaikan dengan kondisi Ibu yang sedang hamil, seperti penurunan dosis atau pemilihan obat yang sedikit lebih aman. Tentunya hal ini dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter.

    Ada seorang wanita Amerika yang hamil 3 bulan kemudian dia divonis menderita kanker payudara. Kemudian wanita tersebut melanjutkan kehamilannya sekaligus menjalani kemoterapi. Setiap si wanita selesei minum obat, janin dalam kandungannya berontak dan menendang-nendang karena kerasnya obat yang diminum wanita tersebut. Tapi, anak tersebut lahir selamat dan sudah berumur 6 tahum dan tidak mempunyai masalah kesehatan yang serius.

Leave a Reply

July 2014
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
JIka ingin request pembahasan mata kuliah tertentu, bisa hubungi saya di twiiter @shinkaoju

Statistik

  • User Online: 1
  • Today Visit: 61
  • Week Visit: 1463
  • Total Visit: 161349